Konsistensi

Memikirkan manusia memang tidak ada habisnya. Selalu berdinamika, selalu berevolusi, selalu berubah-ubah. Betapa tidak, setelah menemui berbagai hal, membuat saya tertarik untuk memikirkan hal ini. Bicara mengenai konsistensi yang menciptakan idealisme, takkan pernah ada habisnya. Saya yakin setiap manusia memiliki pendiriannya masing-masing, mempunyai keinginan, maksud, dan tujuan tersendiri. Yang dimana memang hal tersebut bisa dipengaruhi orang lain ataupun sama sekali tidak bisa disentuh. Namun setelah saya pikir-pikir memang benar manusia hanya bisa berwacana, tapi ada yang lebih berkuasa, Takdir.

Saya sendiri adalah orang yang selalu berusaha menjadi orang yang konsisten, teguh dalam pendirian dan selalu menghormati keputusan orang lain, bagaimanapun. Namun seberapa hebat, seberapa kuat pendirian ini rasanya tidak mungkin juga mengalahkan jalan yang memang telah digariskan.

Awalnya saya adalah orang anti rokok. Bahkan ditawari sekalipun. “Rokok bro? Kalau mau ambil aja”. Saya selalu menjawab, “enggak bro aku nggak ngrokok”. Selalu ada rasa bangga ketika mengatakan hal itu. Walaupun sepertinya yang lain tidak percaya kalau saya tidak bisa merokok. Ya memang, alasan itu yang membuat saya tidak merokok, tidak bisa, tidak bisa merokok, tidak bisa menikmati kenikmatannya. Beberapa kali saya mencoba, Cuma ingin mengerti bagaimana, namun tidak ketemu.

Beberapa tahun, bertahun-tahun sampai saya yakin sepertinya saya memang tidak dilahirkan menjadi seorang perokok. Abang saya pun selalu mewanti-wanti jangan ngrokok, jangan ngrokok. Orangtua pun begitu. Diri ini juga sadar uang saku yang sangat pas-pasan ini sungguh merugi apabila ditukarkan dengan barang setengah haram tersebut. Seperti membakar uang saja, pikir saya. Namun sedari dulu pun saya tidak pernah ada masalah dengan perokok, dan tidak pernah berpikir tindakan mereka adalah suatu kesalahan (seperti yang saya katakan tadi, saya menghormati bagaimana pendirian orang). Melihat perokok mungkin sederhananya bisa diibaratkan seorang anak kecil yang bisa ditenangkan dengan satu dot susu, atau seorang kutu buku yang akan merasa pas ketika membaca ditemani secangkir kopi, atau yang lain-lainnya. Bedanya perokok memilih ketenangannya dengan membahayakan dirinya sendiri dan bisa pula membahayakan yang lain. Tapi sepertinya tidak ada alasan yang membenarkan untuk mencoba rokok, entahlah, persepsi.

Namun akhirnya saya mencapai batas konsistensi saya. Saya juga tidak pernah membayangkan kalau saya akhirnya menulis tentang ini ditemani asap, asap rokok. Adalah keadaan sekarang, yang mungkin menjadi pembenaran saya akan hal ini. Setelah disini, ada beragam manfaat rokok yang saya temukan dan saya rasakan sendiri. Bahkan bukan saya saja yang inkonsisten, tapi abang saya yang dulu melarang pun justru menganjurkan, “kamu sekarang juga harus belajar ngrokok, ya sesekali, besok kerjamu kan kaya gitu, harus bisa nyesuiain diri kan sama lingkungan”. Ditambah dengan kegundahan hati (haha), kesunyian-kesunyian dan segala kekalutan ini, rokok cukup membantu menenangkan emosi yang terlalu gampang tersulut ini.

Beruntungnya saya tidak menjadi pecandu. Tidak, tenang saja. Semudah-mudahnya saya lepas kontrol, lebih kuat kuasa atas diri saya sendiri. Sebenarnya mudah bagi para pecandu-pecandu rokok jika ingin berhenti. Kuasai diri, memang itu dari saya yang baru beberapa bulan ini sedikit dekat dengan rokok. Tapi saya yakin jika memang ingin, dewasakan diri, lantas mudah untuk menguasai diri.

Konsistensi mungkin lahir dari kuatnya kuasa diri. Semakin kuat kita bisa mengontrol diri, konsistensi tidak akan goyah. Meski saya yakin tidak akan semudah itu, tidak akan sestagnan itu, dinamika itulah yang menandakan kita hidup. Sekarang berifikir tentang sudah benarkah apa yang diyakini, benarkah apa yang diperjuangkan dengan konsistensi ini. Benarkah hati ini yang selalu mencoba konsisten untuk menungguimu? Salah, untuk apa mengejar yang tidak pasti, konsistenlah untuk mengejar yang pasti, kejarlah kemuliaan-Nya.

b-ismi-llāhi r-raḥmāni r-raḥīmi

teteg tatag tutug

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s