“Saya selalu menolak dipahami. Berusaha dipahami berarti melacurkan diri. Saya memilih menjauh dari apa yang bukan menjadi jati diri saya, secara manusiawi tetap tak dikenal, secara alami, dengan segala hormat.”

-Pessoa

Reuni

buberTerakhir kumpul masih make seragam putih abu, masih pake badge sma kebanggan masing-masing. Nyaris tiga tahun. Memang belum waktu yang panjang, tapi satu hari aja cukup untuk saya kangen sama kamu. Apalagi nyaris tiga tahun. Kangen.

Salah satu hal paling menyenangkan di dunia ini adalah nostalgia. Bagi saya, nostalgia kenangan apapun, entah pahit, manis, getir, sesak, bahagia apapun itu selalu menyenangkan. Karena bernostalgia membuat saya selalu tersenyum, memang benar kata orang-orang dengan senyuman membuat semuanya nampak mudah, nampak ringan. Ya karena itu sebenarnya adalah masa lalu. Masa lalu biarlah berlalu. Namun juga jangan hanya berlalu begitu saja tanpa pemaknaan dan tanpa pembelajaran yang penting untuk masa depan. Bagaimanapun kita sekarang  adalah hasil pemaknaan masa lalu atas diri kita sendiri. Implementasi makna dan cerminan masa lampau.

Sangat bersyukur liburan kali ini. Seperti yang saya harapkan, dapat bertemu dengan semua teman-teman lama. Memang tidak semuanya, tapi setidaknya bertemu dengan perwakilan setiap cerita, setiap kenangan, terlebih kenangan masa putih abu-abu.

Saya jadi ketua JTP, awalnya adalah karena kalah gambreng. Hom pim pah alaium gambreng. Saya kalah dari Cicik dan Wahjuk, perwakilan Kosong sore itu. Karena kekalahan itu, akhirnya saya jadi perwakilan Kosong dalam pemilihan Ketua dan jajaran fungsional JTP angkatan pertama. Bahkan saya baru beberapa minggu lalu masuk Kosong sebenarnya. Seperti calon dari teater-teater lain, saya juga mengucapkan beberapa patah kata sebagai bentuk kampanye terpaksa. Entah insting saya yang sering tepat atau bagaimana, tapi memang saya berpikir saya yang akan jadi ketua. Yak, benar adanya dengan sistem voting saya mendapat perolehan suara lebih banyak daripada yang lain. Aneh sekali, bahkan saya tidak kenal dengan yang lain. Dengan bingung, salting, grogi dan seluruh perasaan campur aduk akhirnyalah saya terima keputusan tersebut. Bagaimana lagi, mungkin takdir. “Saya harapkan kita semua seperti keluarga, saling bantu satu sama lain”, kalimat sedikit yang saya ingat. Formalitas sekali.

Donny, dari Biroe adalah wakil saya. Ada Nadya dari Hoha sebagai sekretaris. Retyan Timboel jadi bendahara. Saya sampai sudah lupa yang lain jadi apa. Sebenarnya JTP angkatan saya dibentuk lagi setelah vacum of power selama setahun. Angkatan pemrakarsa hanya berfungsi untuk menunjukkan khalayak bahwa di Solo juga ada jaringan teater pelajar seperti di kota-kota lain, JTP Jakarta lah yang menjadi role model. Bangga ya jadi ketua pertama, bangga bisa ditulis di CV he he he.

Angkatan saya dihadapkan salah satu proker luar biasa. Kami diminta untuk membuat sebuah festival drama teater SMA se-Solo. Hal yang luar biasa apabila itu dapat terwujud. Bahkan saya sudah sampai masuk koran, foto setengah badan pake jaket smansafouria menjelaskan bahwa kami akan membuat sebuah gebrakan. Namun apadaya, proses tersebut sangat penuh intrik. Menyatukan semuanya begitu susah, ego-ego sektoral terus mendominasi, sampai akhirnya saya menyerah, semua menyerah. Praktis, tidak ada lagi proker kami. Namun latgab, saling bantu saat pentas, resik-resik sanggar, nonton teater bareng, dan rapat-rapat tetap selalu ada.

Memang, sepertinya tidak ada yang bisa dibanggakan untuk angkatan saya. Semua yang hanya memandang sebelah mata, saya yakin tidak akan menyadari. Meskipun kami tidak berhasil membuat suatu event besar, ada hal lain yang terbukti sulit untuk dilakukan sekarang ini, dan terbukti angkatan pertama dapat mencapainya. Kami satu, itulah capaian kami. Hampir seluruh SMA bisa bersatu kala itu di tengah intrik yang terjadi di ranah budaya Surakarta. Sulit, sangat sulit bahkan. Dan keberhasilan kami selanjutnya adalah kami dapat mencetak angkatan kedua yang lebih baik. Lebih baik karena mereka hebat, membuat pentas gabungan seluruh teater pelajar, dengan sutradara dari kita sendiri, JTP, membanggakan. Masih teringat betapa leganya ketika tugas saya telah tergantikan. Namun mendengar cerita kemarin, sedikit kaget sampai sekarang masih dari angkatan dua yang menjadi penggerak. Semoga cepat berbenah.

Akhirnya malam itu kita kumpul lagi, setelah sekian lama. Sangat bersyukur. Bahagia sekali, sungguh. Guyonan mereka masih sama, masih sama, tapi tidak pernah bosan. Yang selama ini saya kira saya akan dijauhi, tidak akan diterima seperti dahulu mengingat saya sudah tidak pernah lagi membantu, tidak pernah srawung lagi, ternyata tidak seperti itu, saya masih disambut dengan senyuman. Bahagia sekali, terimakasih saudara-saudaraku JTP.

Saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan yang kalian berikan. Saya akan selalu ada, meskipun jauh. Saya selalu mengikuti dari jauh. Kalau sempat pasti tidak akan saya lewatkan. Semangat untuk kalian yang masih terus berproses, terus berkarya. Saya iri sebenarnya. Teruskanlah budaya ini kawan, kalianlah yang terpilih untuk menjadi penerus-penerus seniman muda Sala. Saya bangga ketika waktunya nanti kalian sudah menjadi besar. Dan dengan kebesaran kita masing-masing kita bangun JTP lagi.

Memayu hayuning buwana.

Salam Budaya, Jaringan Teater Pelajar Angkatan Pertama

Konsistensi

Memikirkan manusia memang tidak ada habisnya. Selalu berdinamika, selalu berevolusi, selalu berubah-ubah. Betapa tidak, setelah menemui berbagai hal, membuat saya tertarik untuk memikirkan hal ini. Bicara mengenai konsistensi yang menciptakan idealisme, takkan pernah ada habisnya. Saya yakin setiap manusia memiliki pendiriannya masing-masing, mempunyai keinginan, maksud, dan tujuan tersendiri. Yang dimana memang hal tersebut bisa dipengaruhi orang lain ataupun sama sekali tidak bisa disentuh. Namun setelah saya pikir-pikir memang benar manusia hanya bisa berwacana, tapi ada yang lebih berkuasa, Takdir.

Saya sendiri adalah orang yang selalu berusaha menjadi orang yang konsisten, teguh dalam pendirian dan selalu menghormati keputusan orang lain, bagaimanapun. Namun seberapa hebat, seberapa kuat pendirian ini rasanya tidak mungkin juga mengalahkan jalan yang memang telah digariskan.

Awalnya saya adalah orang anti rokok. Bahkan ditawari sekalipun. “Rokok bro? Kalau mau ambil aja”. Saya selalu menjawab, “enggak bro aku nggak ngrokok”. Selalu ada rasa bangga ketika mengatakan hal itu. Walaupun sepertinya yang lain tidak percaya kalau saya tidak bisa merokok. Ya memang, alasan itu yang membuat saya tidak merokok, tidak bisa, tidak bisa merokok, tidak bisa menikmati kenikmatannya. Beberapa kali saya mencoba, Cuma ingin mengerti bagaimana, namun tidak ketemu.

Beberapa tahun, bertahun-tahun sampai saya yakin sepertinya saya memang tidak dilahirkan menjadi seorang perokok. Abang saya pun selalu mewanti-wanti jangan ngrokok, jangan ngrokok. Orangtua pun begitu. Diri ini juga sadar uang saku yang sangat pas-pasan ini sungguh merugi apabila ditukarkan dengan barang setengah haram tersebut. Seperti membakar uang saja, pikir saya. Namun sedari dulu pun saya tidak pernah ada masalah dengan perokok, dan tidak pernah berpikir tindakan mereka adalah suatu kesalahan (seperti yang saya katakan tadi, saya menghormati bagaimana pendirian orang). Melihat perokok mungkin sederhananya bisa diibaratkan seorang anak kecil yang bisa ditenangkan dengan satu dot susu, atau seorang kutu buku yang akan merasa pas ketika membaca ditemani secangkir kopi, atau yang lain-lainnya. Bedanya perokok memilih ketenangannya dengan membahayakan dirinya sendiri dan bisa pula membahayakan yang lain. Tapi sepertinya tidak ada alasan yang membenarkan untuk mencoba rokok, entahlah, persepsi.

Namun akhirnya saya mencapai batas konsistensi saya. Saya juga tidak pernah membayangkan kalau saya akhirnya menulis tentang ini ditemani asap, asap rokok. Adalah keadaan sekarang, yang mungkin menjadi pembenaran saya akan hal ini. Setelah disini, ada beragam manfaat rokok yang saya temukan dan saya rasakan sendiri. Bahkan bukan saya saja yang inkonsisten, tapi abang saya yang dulu melarang pun justru menganjurkan, “kamu sekarang juga harus belajar ngrokok, ya sesekali, besok kerjamu kan kaya gitu, harus bisa nyesuiain diri kan sama lingkungan”. Ditambah dengan kegundahan hati (haha), kesunyian-kesunyian dan segala kekalutan ini, rokok cukup membantu menenangkan emosi yang terlalu gampang tersulut ini.

Beruntungnya saya tidak menjadi pecandu. Tidak, tenang saja. Semudah-mudahnya saya lepas kontrol, lebih kuat kuasa atas diri saya sendiri. Sebenarnya mudah bagi para pecandu-pecandu rokok jika ingin berhenti. Kuasai diri, memang itu dari saya yang baru beberapa bulan ini sedikit dekat dengan rokok. Tapi saya yakin jika memang ingin, dewasakan diri, lantas mudah untuk menguasai diri.

Konsistensi mungkin lahir dari kuatnya kuasa diri. Semakin kuat kita bisa mengontrol diri, konsistensi tidak akan goyah. Meski saya yakin tidak akan semudah itu, tidak akan sestagnan itu, dinamika itulah yang menandakan kita hidup. Sekarang berifikir tentang sudah benarkah apa yang diyakini, benarkah apa yang diperjuangkan dengan konsistensi ini. Benarkah hati ini yang selalu mencoba konsisten untuk menungguimu? Salah, untuk apa mengejar yang tidak pasti, konsistenlah untuk mengejar yang pasti, kejarlah kemuliaan-Nya.

b-ismi-llāhi r-raḥmāni r-raḥīmi

teteg tatag tutug

“Membuktikan diri baik, bukanlah dengan menyatakan diri baik, tapi dengan kata dan kerja yang baik. Membuat orang lain bahagia bukanlah dengan menyuruh orang itu bahagia, tapi dengan kata dan kerja yang membahagiakannya. Mengatakan orang lain salah, bukanlah dengan mengumumkan orang itu jelek, tapi dengan gambaran-gambaran yang akan membuat umum berkesimpulan tidak pada orang itu. Membuat orang lain menangis, bukan dengan menyuruhnya menangis, tapi dengan kata dan kerja yang akan membuat orang itu sedih dan menangis. Membuktikan diri terbuka, bukanlah dengan mengatakan bahwa diri sudah tidak tertutup, tapi dengan kata dan karya yang menunjukkan dan mengesankan keterbukaan kita. Secara sederhana saya pikir inilah yang disebut cara kultural.”

Mati Muda

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan

Yang kedua dilahirkan tapi mati muda

Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada

Berbahagialah dalam ketiadaanmu

 

Selamat istirahat sahabat, sampai jumpa di keabadian

membingungkan

tidak adakah lagi orang yang percaya tentang ramahnya kebaikan? ketulusan pengorbanan? atau keikhlasan kasih sayang?

apa semua menganggap semua itu hanya mengejar tentang penilaian? mengejar akan pengatas namaan? atau bahkan dianggap pencitraan?

percayalah bukan hanya Dia yang mampu tanpa dipertanyakan, ada yang berusaha untuk melakukan semua yang diajarkan, tapi sadarlah kesempurnaan itulah yang menjadi perbedaan…

Saya tahu saya orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.

Ibu Susi Pudjiastuti