Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus

membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969 – Soe Hok Gie

Rela

Melepas bukan perkara yang mudah

Kenangan takkan hilang dalam sekejap

Apalagi bicara tentang perasaan

Entah mengapa hati saya seperti terpenjara dalam bayang-bayang

Fikiran terpagar dengan rangkaian memori

Memori akan setiap langkah perjuangan dahulu

Sampai-sampai sekarang pun masih begini

Begitu kuat memang

Sukar untuk tergantikan

Apalagi dihilangkan

Semoga

Ini langkah awal yang baik

Bangkit dengan pijakan yang baru

Yang lebih kuat

Yang penuh keyakinan

Yang tegak untuk mimpi tentang masa depan

Saya yakin

Kita masih bisa beriringan

Menuju tujuan masing-masing

Untukmu selalu yang terbaik

Saya rela

image

                “Bukanlah suatu kesalahan apabila seseorang itu mengatakan kepada orang lain bahwa ia berada di jalan yang salah, jika keadaan memerlukannya untuk berterus terang, meskipun hal ini perlu dielakkan jika keadaan tidak menuntutnya berbuat demikian. Malahan adalah sesuatu yang tidak jujur untuk mengatakan kepada orang lain bahwa ia berada di jalan yang benar hanya untuk mengambil hatinya, sedang ia meyakini sebaliknya. Karena dengan demikian ia telah menzalimi dirinya dan diri orang lain tersebut.” – Khalif Muammar.

Pembaharuan

Sore tadi saya jalan ke rumah. Saya putuskan jalan, karena memang tidak ada yang bisa menjemput saya. Orangtua saya sedang di luar kota, dan teman saya tidak bisa dihubungi. Kendaraan umum? Tidak ada. Untungnya di bus tadi saya bisa tidur, jalan 3 4 kilo aja kuat lah. Berjalanlah saya sendiri.

Terkadang saya senang melakukan sesuatu sendirian. Disaat seperti itulah saya merenungi memahami tentang apa yang sedang terjadi. Itulah mengapa kadang saya senang bersepeda sendirian.  Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang sebuah kegiatan di jurusan. Ya mungkin karena teman-teman saya sedang bersiap untuk pengukuhan esok hari.

“Negeri ini butuh pencari solusi, bukan pencaci maki”-Bapak Ridwan Kamil. Saya tahu dari status teman saya yang ia buat di timeline Line kemarin sore. Lalu saya jadi berpikir, saya merasa harus ikut berpikir kritis untuk terus mencari solusi tentang masalah apa yang tengah  terjadi, paling tidak masalah yang ada di depan mata saya, kalau negara saya belum pantas sepertinya. Jika tidak ada kesempatan untuk merubah langsung, paling tidak saya bisa membantu dengan pemikiran, disetujui atau tidak? Lihat saja nanti. Saya rasa ada yang harus dirubah dari kegiatan kaderisasi di jurusan saya, harus ada pembaharuan.

Seperti sebelumnya yang pernah saya katakan, saya setuju tentang kaderisasi. Saya setuju diadakan kaderisasi. Ini penting. Namun disini saya merasa, mengapa seperti tidak ada keselearasan antar jurusan dan himpunan. Padahal keduanya sama-sama saling berkaitan, sama-sama membutuhkan. Padahal ini juga sebuah kegiatan yang bukan main-main. Tentunya keduanya harus saling mendukung setiap apapun yang dilakukan. Hal ini menjadi dasar yang begitu penting, saya pikir dari awal harus sudah ada kesepakatan bersama tentang kegiatan ini, dari waktu, rencana kegiatan dari awal sampai akhir, bagaiamana teknisnya dan kesemuanya harus sudah tersepakati dari awal. Menjadi aneh ketika apa yang dikatakan di perjanjian awal bisa dirubah di tengah-tengah. Dengan alasan masalah birokrasi dengan jurusan? Aneh. Lantas siapa yang menjadi korban? Sudahkah dipikirkan dari awal?

Dilihat dari awal, kaderisasi di jurusan saya merupakan lanjutan dari ospek PMB. Tidak seperti kebanyakan di jurusan lain, atau univ lain yang juga masih melakukan pengkaderan. Di jurusan saya kaderisasi tidak wajib, kita bisa memilih, turut mengikuti atau tidak. Namun di awal juga ada pemeberitahuan, jika ikut maka kalian akan menjadi anggota keluarga besar kami, kalian akan mendapat surat rekomendasi himpunan, jika tidak ya kalian tidak diangkat menjadi anggota himpunan. Saya bingung, itu pemberitahuan atau ancaman. Tentunya semua ingin menjadi anggota dari sebuah keluarga besar, tentunya semua ingin mendapat perlakuan sama dari himpunan tempatnya belajar.  Bagi saya inilah salah satu hal yang juga harus dirubah. Ini yang dapat memecah belah sebuah keluarga. Keluarga baru yang masih belum diakui keluarga besarnya. Juga menjadi aneh nanti, keluarga se angkatan awal atau keuarga setelah pelantikan.  Sudahkah dipikirkan bagaimana  esok orang-orang yang memilih untuk tidak mengikuti? Saya rasa yang dipikirkan hanya yang mengikutinya tentunya. Saya telah berada dalam dua posisi itu, saya tau bagaiamana rasa diantara keduanya. Bisa membayangkan rasanya pergi ke tempat kita sendiri namun kita merasa asing di tempat kita sendiri itu? Lantas karena ada pilihan tadi, yang tidak mengikuti jadi bisa disalahkan? Salah sendiri tidak ikut. Begitukah? Karena mendiamkan masalah adalah kejahatan (saya yakin kalian bukan orang-orang jahat).

Konsep kakak adik atau senior junior super senior super junior disini pun begitu abu-abu. Sampai saya bingung sendiri. Saya sendiri punya kakak, dua orang bahkan. Setiap saya salah, kakak saya selalu memberitahu saya tentang bagaiamana yang benar. Begitupun sebaliknya, kami sama-sama menerima kritik ataupun saran. Disini? Semua menjadi tidak tahan kritik, bahkan suara-suara seperti dibungkam saya rasa. Peraturan pertama senior selalu benar, peraturan kedua jika senior salah maka kembali ke peraturan pertama. Seperti itu yang saya rasakan. Tradisi sepertinya menjadi hal yang baku, keras, dan akan terus diperjuangkan dengan bagaimanapun. Lupa dan tidak melihat bagaimana situasi kondisi yang dihadapi.

“Ini konsekuensi karena kesalahan kalian, ingat setiap kesalahan pasti ada konsekuensi yang harus kalian terima, rambut disamakan , bla bla blah” (saya hanya ingat tentang rambut disamakan). “Syarat untuk kegiatan besok, buat yang cowok rambut disamakan, bla bla blah” (saya hanya ingat tentang rambut disamakan). Kemudian kami memangkas rambut kami sesuai kesepakatan kami. Esoknya, “Lihat ini sama enggak sama yang ini? tolong yang merasa beda maju”. Saya maju. Saya bingung, kenapa harus selalu rambut disamakan. Apa esensinya. Apakah kompak hanya dilihat dari tampak luar?” Besok kalau ditanya kajur atau dosen, dijawab ini kesepakatan kalian ya”. Lebih bingung. Kami diajarkan menjadi pembohong? Saya rasa itulah mengapa saya katakan sepertinya tradisi mau tidak mau harus terus dilakukan. Dan disini juga menjadi terlihat seperti tidak ada keselarasan antar jurusan dan himpunan. Itu salah satunya.

Saya jadi teringat tweet-tweet teman saya tadi malam.

@papibjorn : Taukah jurusan yg paling byk mencetak tokoh di kampus kita? Bagaimana produk yang   dihasilkan & sistem pencetakannya?

@papibjorn : mereka dicetak memimpin, bukan pekerja

Baru sadar saya, ya memang beginilah saya pikir, setuju. Disini dari awal ditunjuk beberapa orang saja yang memimpin. Yang lain? Menjadi apatis atau ikut-ikut arus saja. Yang aktif akan semakin aktif, bahkan seperti ingin mencari perhatian, kadang-kadang sampai mengorbankan temannya sendiri (sedih). Yang apatis akan semakin apatis. Kita tau semakin lama belum tentu semakin baik. Dilantik ketika sudah siap? Hanya skenario dari awal saya pikir.

Saya rasa, kegaitan ini haruslah kembali menjadi wajib bagi kesemuanya. “Yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani”. Kalau memang takut lebih baik tidak usah sama sekali daripada diadakan tapi dengan setengah-setengah, ini justru menimbulkan masalah. Saya yakin kalian bukan orang-orang jahat. Tentunya jika memang berani untuk melakukan sesuatu, juga siap menghadapi resiko yang akan datang. Sama-sama akan timbul masalah, namun jika memang disusun dengan baik, telah ada persetujuan himpunan, jurusan dan calon keluarga baru  semuanya akan baik tentunya, saya yakin.

Saya paham, ini semua agar menunjukkan kalau kehidupan teknik itu keras. Apalagi anak lapangan. Saya tahu. Saya paham apa tujuan dan apa esensi yang ingin ditunjukkan. Saya pernah mengikuti sebuah tes sekolah tinggi negeri. Ketika itu, standar salah satu tes diturunkan melihat jika tetap menggunakan standar tersebut hanya 15 orang saja yang lulus. Akhirnya dari standar dimana IQ harus diatas 115 diturunkan menjadi 110 hingga akhirnya banyak yang dapat melewati tes tersebut. Setelah pengumuman ternyata saya beruntung, walaupun tidak diturunkan ternyata saya bisa lolos sebenarnya. Namun ya sudah saya tetap menerima keputusan tersebut, demi kebaikan bersama bukan. Menurut saya, ini dapat diterapkan disini jika memang dipikir terlalu keras, kenapa tidak diturunkan saja standarnya. Saya yakin yang telah melewatinya pun dapat menerima keputusan yang bertujuan baik itu. Sudah? Lantas kenapa masih tidak berani untuk mewajibkan? Takut tidak akan mencapai tujuan tersebut? Tidak akan tercapai esensi-esensinya? Sepesimiskah? Atau gengsi? Takut tidak disetujui birokrasi? Hanya hukuman saja yang berani diperjuangkan agar tetap dilakukan? Saya yakin banyak cara untuk mencapai tujuan yang baik.

Negeri ini telah beberapa kali mengalami pembaharuan, dari masa ke masa selalu ada yang diperbaiki. Tentunya semua bertujuan demi masa depan yang lebih baik. “Tomorrow is the another day, the day of struggle for better life”.  Semua harus mendukung setiap keputusan. Semua wajib turut mendukung perubahan. Saya yakin ini semua butuh pembaharuan. Tradisi harus disesuaikan perkembangan. Tidak semua bisa diterapkan di setiap keadaan. Jangan lagi menghindari masalah dengan memecah sebuah keluarga, sakit rasanya. Saya yakin kalian mampu merubahnya.

Tak terasa, 30 menitan saya berjalan, sudah sampai di depan gerbang rumah. Saya tidak membawa kunci rumah, karena biasanya Ibu meninggalkan kunci di depan. Saya cari kesana kemari. Di tempat biasa tidak ada. Saya hubungi tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ketika hampir putus asa. Tiba-tiba tetangga saya datang, dia membawa kunci pintu samping. Beliau memang kerap menjadi pengurus rumah kami ketika semua orang pergi beberapa hari. Beruntunglah, kadang solusi memang datang terlambat, tapi selalu datang pada saat waktu yang tepat, mungkin beginilah skenario-Nya.

Selamat atas pelantikannya kawan.

“Nobody knows the troubles, i see nobody knows my sorrow”.

Saya sedang belajar darimu Gie.

Terimakasih

Sore itu saya memboncengkan teman saya setelah mengikuti kegiatan sore di kampus, entah apa saya lupa kegiatan apa tepatnya, sepertinya pengkaderan. Teman saya sama seperti saya berasal dari luar daerah, dia tidak dibekali motor disini, tidak tau juga apa alasannya.  Kos kami yang berdekatan membuat saya mengajaknya untuk pulang bersama. Memang, dia memang begitu tertutup tapi entah kenapa saya ingin sekali bertanya padanya dalam kesempatan itu. Akhir-akhir itu memang dia menjadi sering hilang, bahkan kuliah pun jarang.  Entah kenapa saya jadi penasaran. Dan alasan sakit tidak membuat saya percaya begitu saja.

Tidak kaget, rupa-rupanya seperti yang saya pikir. Tidak kuat. Saking tertutupnya dia tidak bisa menjelaskan bagaiamana maksud pasti yang dia katakan. Timbul pertanyaan di benak saya, dia tidak kuat akan perkuliahan di teknik atau apa yang lain. Rasa-rasanya saat itu perkuliahan masih biasa saja, alat pun baru diperkenalkan sepertinya. Atas dasar apa tidak kuat? Atau mungkin ada alasan lain?

Kayaknya aku mau pindah…. Kaget, saya tau dia lulusan satu tahun diatas, dari ceritanya dia memilih jurusan yang sama walau diterima di dua tempat yang berbeda tahun ini. Pertama UGM kedua disini. Jurusan yang jarang tentunya orang mengerti. Dua  kali diterima, bagi saya mungkin memang dia ingin sekali di jurusan ini, ya saya juga tidak tahu. Kalaupun ada alasan lain hingga sebegitu yakin dia ingin pindah. Dengan alasan tidak kuat. Wajar?

Sepertinya wajar-wajar saja ya. Wajar ya, teknik keras. Wajar. Semoga orang tuanya dapat memahami kewajaran ini. Semoga mereka bisa merelakan harapan anaknya jadi insinyur. Selamat mengejar mimpimu kawan. Berjalan berlarilah sesuai hati, merdekalah.

———————————————————————————————————————————————————–

Pagi itu cukup lelah rasanya. Ya memang kami selesai kuliah olahraga. Di sebuah warung ketoprak, saya dan teman saya memesan 2 piring ketoprak dan 2 teh manis. Perpaduan yang cocok untuk mengisi perut kami di pagi itu. Tak lama kemudian datang mobil teman kami, ya tentunya dia juga tidak sendiri, akhir-akhir itu memang sepertinya dia sedang dekat dengan seorang perempuan, dia dari teknik kimia, turut senang rasanya melihat teman sedang bahagia.

Sembari kami makan, kami mengobrol. Hal-hal yang kami bahas hal yang sedang panas-panasnya. Kemarin hari, akhirnya saya memutuskan keluar dari sebuah sistem. Entah saya dikeluarkan atau saya yang keluar. Entahlah. Saya hanya bisa merasakan kekecewaan di hari kemarin. Saya hanya teringat dulu, di awal-awal, saya tidak diijinkan ketika meminta ijin kepada kedua orangtua saya untuk mengikuti kegiatan ini, sepertinya Ibu benar-benar berharap agar saya menyiapkan diri sebaik mungkin untuk mengejar mimpi saya yang belum berhasil tahun depan. Namun terjadi perdebatan di benak saya. Kalau hanya masalah perijinan orangtua tentang kegiatan-kegiatan seperti itu, sering sekali saya tetap ngeyel ikut meskipun tidak diijinkan. Egois, seperti anak kecil ? ya begitulah saya. Tapi saya tahu apa yang saya lakukan, saya tahu apa yang saya putuskan. Saya putuskan untuk tetap ikut. Dan kemudian saya ajak teman-teman yang awalnya juga sama-sama berniat tidak mengikuti kegiatan itu. Kami memang mirip. Alasannya, kami memang masih ingin berjuang meraih mimpi kami masing-masing tahun depan. Dan akhirnya yang lain sepakat dengan saya. “Ayo kita sama-sama ikut, bair kita bisa deket sama temen-temen, kita ciptakan satu tahun yang indah bareng temen-temen, biar kita besok pergi meninggalkan kesan”. Kata-kata puitis itu membuat mereka setuju dengan saya. Akhirnya kami ikut, namun kami tidak pernah ikut menandatangani surat perjanjian bermaterai itu.

Membuka memoar itu mungkin yang membuat saya kecewa. Padahal kata teman-teman tinggal sedikit lagi kami selesai melewati sistem itu. Tapi tak apalah, juga bukan itu tujuan saya dari awal. Saya tidak pernah berkeingingan untuk dilantik atau dikukuhkan. Saya tidak menyesal.

Saya ceritakan kejadian kemarin kepada teman-teman sembari makan ketoprak. Karena kemarin mereka tidak sempat ikut untuk dikumpulkan kakak-kakak di gedung C, C101 kalau tidak salah. Saya ceritakan bagaiamana kondisinya. Kemarin memang panas. Mereka bertanya kepada kami semua angkatan 14. Siapa yang sudah tidak niat. Dan yang mengacungkan jari hanya ada teman saya satu, ya jelas teman saya yang satu itu juga hampir mirip ceritanya dengan teman saya yang tidak kuat, kami hanya bisa mengiyakan dia keluar sistem, karena memang mungkin begitulah pilihannya, merdekalah.

Saya ceritakan juga cerita teman lain yang akhirnya juga memilih keluar. Kemarin dia begitu lantang menentang.  Karena beberapa hari yang lalu memang terjadi ketidakwajaran, di temu angkatan 2013, sore itu banyak sekali kami yang tidak sholat Ashar, termasuknya, bukan karena kami tidak ijin. Karena kami ijin berkali-kali pun tetap belum diijinkan, nanti..nanti dulu ya dek sebentar lagi, begitu katanya, padahal waktunya pun tinggal sedikit. Teman saya menanyakan tentang hal itu, anehnya justru kakak-kakak kami begitu kekeuh dengan tidak mau mengalah, membuat keadaan menjadi sama-sama tidak mau kalah dan seperti biasa akhirnya kami lah yang salah, teman kami yang lain lagi yang meminta maaf. Jujur saja, saya tidak setuju jika kami yang meminta maaf, mungkin teman yang meminta maaf itu terlalu munafik bagi saya, tapi ya sudahlah teman tetap teman, mungkin maksudnya baik. Gila saya pikir. Sedang dari kakak-kakak kami yang meminta maaf hanya satu, dan teman saya yang mempertanyakan sepertinya tidak puas akan hal itu. Kejengahan itu akhirnya membuat dia memilih menyingkir. Bagi saya dia orang yang punya pendirian, egois atau pengecut? Silahkan saja menilai. Perspektif tidak ada yang benar dan salah. Jika idealisme sudah mulai ikut dikendalikan, saya juga memilih untuk tidak menjadi kerbau, tak sudi hanya menjadi robot, dengan alasan sebaik apapun itu, jika caranya salah, saya mendukungmu kawan, merdekalah.

Mulai besok pengkaderan akan diganti di hari jum’at dan sabtu. Begitu kira-kira katanya. Kaget. Saya terdiam sejenak. Dan akhirnya saya putuskan menjawab.” Seingat saya, sebelum memberi surat perjanjian bermaterai dulu kami diberitau kalau pengkaderan taun ini tidak akan dilakukan pada weekend. Bahkan sebelum saya pastikan ikut, saya pernah diajak berdiskusi di ruang HM bersama kakak-kakak. Kakak-kakak sekalian memberitahukan tentang kegiatan ini, dan secara langsung kakak-kakak bilang tidak akan pengkaderan pada weekend. Jadi, bila kegiatan dilakukan di hari weekend, mohon maaf saya tidak bisa kak”. Oke berarti Dimas tidak bisa, sambil dicatat nama saya, dicatat bersama teman-teman yang memutuskan untuk keluar. Saya bingung, bahkan saya tidak bilang keluar. Jawaban saya memiliki maksud tidak adakah kesempatan bagi saya? Tidak kah perjanjian yang menurut saya penting tetap dipertahankan? Saya hanya bisa mengumpat dalam hati, seperti biasanya. Saya ikhlaskan, dan saya putuskan sudahlah saya keluar saja, daripada saya juga menjadi beban, dan saya tidak mau diistemawakan juga oleh kakak-kakak dan angkatan. Ikhlas.

“Gila, masa pada keluar gini sih? Kok mereka juga diem aja sih gaada yang belain lu lu? Temen-temen gue ini, masa pada ngilang gini sih. Apa kita bareng-bareng ke Pak Kajur? Kaya anak-anak yang kemarin juga ke Kajur nanyain tentang waktu temu angkatan 2013? Ini udah gak wajar ini, masa kaya gini sih. Gue ikut keluar apa gimana ya? Tapi nanggung bentar lagi.. ah mendingan yaudah deh gue ikut-ikut aja tapi bodo gue ga mau ngapa-ngapain cuma ikut doang”. Begitulah sekiranya teman saya menanggapi cerita saya. Bahkan saya baru sadar, dia lah yang pertamakali berniat membela, entah kenapa saya jadi senang sekali. Gini nih kalo temen, begitu rasanya. Meskipun baru niat, walau entah dilakukan atau tidak saya senang karena bahkan saya pun tidak meminta untuk dibela. Terimakasih bro, akan selalu saya ingat.

Kami kenyang dan akhirnya kami pulang ke kos kami masing-masing. Selamat jalan.

————————————————————————————————————————————–

Sudah banyak yang dilewati. Banyak. Salah satunya tentang pemimpin kami. Ya, kami sudah memiliki seorang pemimpin sekarang. Dialah teman saya, teman yang selama ini sangat saya hormati seperti teman-teman dekat saya yang lain, sangat saya hormati bahkan sebelum jadi Komting sekalipun. Teman saya yang berniat membela saya dulu. Meskipun tidak dilakukan, saya masih ingat betul bagaiamana rasanya ketika dia bilang itu dulu. Selamat memimpin Ting.

————————————————————————————————————————————–

Malam kemarin, tiba-tiba ada teman ke kos, dia menjemput saya. Kaget. Karena saat itu saya sedang mengerjakan tugas kelompok. Dia memberikan hp, dia langsung memutar rekaman. Ternyata rekaman tentang situasi yang terjadi di kontrakan komting kami. Malam itu di kontrakan komting memang sedang ada kumpul angkatan, dari sedikit yang saya tahu sedang dilakukan pembahasan karena weekend ini ternyata mereka akan dikukuhkan, syukurlah. Sembari mendengarkan rekaman, ternyata yang bicara di hadapan teman-teman di kontrakan komting adalah teman dekat saya (Teman dekat saya, kami dekat dari awal, juga dekat dengan teman saya yang jadi komting sekarang. Sering kami bersama dulu. Kami dekat karena garis besar pemikiran kami sama, walau sikap kami berbeda-beda dengan pemikiran tersebut, sering bertentangan tapi tujuan kami sama). Kaget. “Aku mau kita satu suara, aku mau dikukuhkan kalau semuanya juga dikukuhkan. Kalau dilantik, dilantik semua, kalau enggak ya enggak semua. Aku pilih membela minoritas. Kalau aku dilantik, tiap hari aku ngga bakal bisa tenang, meskipun seneng aku dilantik, tapi ngliat temen-temen lain enggak, mesti rasanya nggak akan enak di hati”. Tidak ada yang lebih romantis mendengarkan kata-kata puitis itu secara langsung, hehe. Ya secara langsung karena tiba-tiba teman dekat saya di rekaman itu ternyata datang juga ke kos mengulang kembali kata-katanya tadi secara langsung. Ternyata saya dijemput untuk ke kontrakan, agar kami yang sedang dia bela memberikan suara tentang bagaimana sikap kami langsung di kontrakan. Ya, tentunya inilah kesempatan saya bersuara, yang sebenarnya sangat saya harapkan dari dulu.

Kami-kami yang memutuskan tidak mengikuti lagi kader akhirnya berdatangan, kaget bahkan teman yang dari awal tidak ikut juga datang. Pembahasan bersama pun dimulai, moderator malam itu bukan komting, karena dia sedang pergi mengurus hal lain, moderator menanyakan bagaiamana sikap kami yang dibela tadi. Singkat cerita, akhirnya saya beranikan angkat suara, ya daridulu saya hanya diam, dan hanya mencoba berusaha bersikap baik, saya diam sebenarnya karena sepertinya daridulu hanya saya yang selalu berbeda pemikiran.

“Assalamualaikum. Saya disini saya enggak mau ngerubah apapun dan gak berniat merubah keputusan kalian. Saya cuma mau ngasih tau sikap saya. Kalau ditanya saya mau nggak kalau ikut pelantikan besok. Mohon maaf saya milih enggak . Saya nggak akan ncabut kata-kata saya dulu (keputusan keluar kader maksud saya).  Kalau boleh cerita, dari awal memang saya ikut kader bukan pelantikan yang saya inginkan, bahkan jadi anggota HM pun bukan itu niat saya. Saya ikut dan saya ajak temen-temen lain yang awalnya gakmau ikut juga, itu biar aku kenal sama kalian. Walau kita berniat mau keluar tahun depan kalau kita keluar kita juga masih jadi temen, dan kalau akhirnya saya gagal saya masih dianggap temen sama kalian. Saya ngga setuju sama kader, karena ini cuma kaya sistem dimana kita harus ikut biar kita diakuin. Kenapa gitu, karena bakal terjadi perbedaan hak kan besok setelah pelantikan? Yang ikut bisa dapet surat rekomendasi, yang lain enggak ? Apa yang ikut bakal lebih baik daripada yang nggak ikut? Kalian bisa liat Ali, Ali sebenernya berjuang buat nunjukin kalau dia nggak ikut kader dia juga bisa jadi kader yang baik dimana aja kalau kalian belum tau. Saya menghormati perjuangan kakak-kakak yang berjuang demi membuat adik-adiknya baik. Memang tujuannya baik, tapi saya tidak setuju sistemnya/caranya. Gimanapun bagi saya psdm juga gagal, karena lihat angkatan kita banyak yang keluar dan kita pecah-pecah. Saya kira kalian sekarang datang banyak karena kalian udah mau dilantik, ya nggak? Yaaa…sebagian dari teman-teman menjawab. Sebelumnya aku dateng nggak pernah segini soalnya. Saya setuju sama kata-katanya Masnya Lita di blognya, ini semacam roda setan yang bakal terus berputar tiap tahun. Bahkan Yudit yang dulunya sepemikiran sekarang jadi kaya gini. Jadi silahkan buat temen-temen yang mau dilantik, maaf kalau saya, saya enggak ikut aja walau tinggal dilantikpun, nggapapa. Yang penting kita tetep temen, tetep saudara, tetep keluarga. Wassalamualaikum Wr.Wb”.

Begitulah jawaban saya malam itu. Setelah itu saya ijin karena malam itu kelompok IUT kami akan asistensi di kos asdos. Kami pun ijin duluan.

———————————————————————————————————————————————————–

Sore itu, tiga hari lagi pelantikan. Sebagian besar dari kami datang pada sore itu, karena memang sepertinya sangat genting. Janji, rasa hormat, dan kasihan yang membuat saya memutuskan datang untuk ikut berkumpul. Setelah sekian lama saya memilih tidak datang karena memang saya sudah tidak dibutuhkan sepertinya. Inilah pertama kali saya merasakan kumpul dengan pemimpin saya yang baru, teman saya.

Suasana ramai menjadi tegang, menjadi kaku seketika setelah pemimpin kami pertama kali angkat suara. Tidak ada salam pembuka, mungkin benar-benar tengah emosi, mungkin memang benar-benar genting. Ya saya hanya bisa diam memperhatikan. Saya hormati bagaimanapun sikapnya. Saya bertanya teman di samping saya, memangnya kaya gini ya tiap rapat? Enggak baru ini dia kaya gitu. Wah, saya kurang beruntung rasanya datang saat dia tengah emosi. Tapi tidak apa, memang saya juga ingin membicarakan sesuatu yang sedikit mengganjal dari pertemuan semalam. Sepertinya saya belum selesai mengatakan semuanya. Semoga sore itu bisa saya ungkapkan, itu harapan saya.

Komting bertanya siapa yang besok nggak ikut pelantikan. Saya tentu mengacungkan jari. Kaget tiba-tiba jadi banyak yang melakukan hal yang sama seperti saya. Saya jadi merasa tidak enak, apa karena jawaban atas sikap saya kemarin malam atau apa ? Memang setelah saya menyatakan sikap saya malam itu jadi banyak yang tiba-tiba mendekat dan mengiyakan pendapat saya kemarin. Tidak tahu, saya tidak mengajak. Seperti yang saya katakan kemarin, saya tidak berniat merubah apapun keputusan kalian. Ini yang membuat saya datang, saya ingin melanjutkan kata-kata saya kemarin. Karena sepertinya terjadi kesalahpahaman.

“Teman-teman sebelumnya saya ingin menegaskan lagi saya tidak berniat merubah apapun keputusan kalian atau pemikiran kalian. Saya harap teman-teman, saling menghargain sikap masing-masing. Saya harap teman-teman yang masih bisa untuk dilantik, ya ikut saja. Jangan seperti saya, kalaupun kalian setuju dengan saya, tetaplah dilantik kemudian ubahlah kalau kalian setuju tentang perubahan yang baru. Sikap saya yang menolak ini semua ya karena memang bagi saya semua ini harus direformasi. Saya memilih diam, memilih menyingkir. Karena saya setuju dengan “lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan”-Gie. Saya memilih diluar sistem untuk membantu mewujudkan sebuah perubahan yang baik. Kalau kalian kira saya seperti pecundang, silahkan anggap saja seperti itu, tapi saya akan tunjukan bagaimana kekuatan diluar sistem, sejarah mencatat perubahan-perubahan di negeri ini dilakukan orang-orang yang berjuang diluar sistem pemerintahan. Saya memilih jalan itu.

Saya sangat menghormati sikap teman-teman yang masih berjuang. Bagi saya tidak ada yang benar atau salah. Kita yakin kita sama-sama bermaksud baik, bertujuan yang baik adalah benar.  Atas dasar apa kalian menganggap kami yang tidak ikut menjadi sikap yang salah? Karena kami tidak mengikuti aturan sistem? Karena kami tidak mau berjuang bersama? Itukah yang salah? Lalu membenarkan segala hal yang diperintahkan, mengacuhkan teman-teman lain karena kalian tetap berada dalam sistem adalah sikap yang benar?

Yang menjadi pembeda hanya kalian berjuang di dalam dan kami berjuang diluar. Saya hanya bisa berharap omongan teman-teman dulu yang pernah berkata “aku rabakal gelem mlebu HM nek sukmben sisteme terus koyo ngene”, “aku suk bakal dadi kahim barkui tak ubah kabeh sisteme”, dan omongan-omongan lain yang entah kenapa saya masih ingat. Dan saya harap kalian tidak lupa. Saya harap kalian tetap berpikir jernih. Tidak ada dendam yang harus dibalaskan.

Saya setuju ada pengkaderan, itu memang penting, itu memang bertujuan baik, namun apakah dengan cara seperti ini? Akankah kalian meneruskan sistem ini? Apakah kalian tega melihat orangtua adik kalian esok merasakan hal yang sama dengan orangtua teman kita? (entah kalian masih menganggapnya teman atau tidak). Tidak sadarkah ada sistem yang harus diperbaiki? Bahkan sedihnya saya menjadi kehilangan teman saya sendiri, dia masih disini tapi dengan tekanan-tekanan itu mebuat dia berubah, entah kalau memang menurutnya itu yang baik untuknya, ya saya doakan saja yang terbaik. Dan kalian tetap akan merasa lebih gagah sehingga dengan bebas bisa ngomong Anjing Lu ke adik kalian atau bahkan ke teman kalian sendiri? Pantaskah? Semarah-marahnya saya, sekecewa-kecewanya saya, saya tidak akan mengatakan hal seperti itu ke adik saya atau bahkan ke anak saya kelak, terlebih kita adalah kaum intelegensia. Akan kalian teruskan sistem yang bakal memecah sebuah keluarga? Setujukah kalian mengharuskan orang-orang menjadi kerbau dulu baru bisa kita anggap sebagai keluarga? Munafik jika ada yang bilang tidak ada perbedaan antara yang dikader dan tidak dikader. Akan ada perasaan berbeda antar keduanya meskipun kita mencoba untuk menghindari perbedaan itu.   Akan ada beban mental yang akan berusaha disembunyikan dengan senyuman.

Bahkan seorang aktor di proses pementasan sebuah drama harus mengembangkan sikapnya sendiri, membangun perasaanya sendiri meskipun sebenarnya juga sudah di skenariokan dan diatur oleh seorang sutradara. Dan sang sutradara juga akan membebaskan aktornya berkespresi karena dia percaya aktornya akan berbuat yang terbaik dengan caranya sendiri. Apakah kalian hanya ingin mencetak robot-robot baru yang sama? Yang bisa diatur tapi tidak memiliki rasa? Kalian akan mencetak generasi yang tidak punya sikap terhadap mereka sendiri?  Dan robot-robot itu akan mencetak robot-robot baru lagi, lagi, lagi dan terus seterusnya?

Banyak pendahulu-pendahulu yang berpikiran seperti saya, tidak hanya Masnya Lita, ada lagi, dan tidak perlu saya sebutkan.  Yang luar biasa tentunya Masnya Lita, diluar sistem tapi dapat membuat perubahan di jurusan kita, tentu kalian tau sendiri bukan.

Teknik itu keras. Di teknik itu nggabisa kalian hidup sendiri-sendiri. Hanya di teknikkah yang bisa kenal semua teman se angkatan, hanya di teknik kah yang bisa kompak? Teknik harus keras? Bahkan kalau kalian tau dulu semua jurusan keras. Semua dipelonco. Tapi entah sekarang hanya teknik yang seperti ini, tidak tau entah kenapa ini semua seperti memuja-muja kegengsian saja bagi saya. Coba lihat di fakultas kita, bisakah bersatu? Gengsi yang membuat semua ini menjadi perpecahan”.

Sayang sekali sore itu saya tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan itu semua. Tidak tau saya kira ini forum angkatan, kaget ternyata banyak sekali senior yang datang. Sebenarnya saya lebih suka istilah kakak daripada senior tapi entah kenapa mereka sendiri menyebut mereka senior. Saya sebenarnya mau berbicara tentang ini dengan senior-senior itu, tapi entah kenapa saya sudah pesimis jika harus memberi pandangan kepada orang yang sudah selesai diinstallkan sistem programnya. Saya hanya bisa mengatakan hal ini kepada kalian. Karena kalian lah keluarga saya, yang saya yakin kalianlah yang akan bisa merubah ini semua.

————————————————————————————————————————————————————

Saya : Mas, km knapa mas? Gmn kbar?

: 😀

Saya : Kok ora tau ketok ngopo

: Owh..ya..wingi awake rada ora kepenek..mki ana maslah..lawang kos ora iso dibuka..tkt ono opo2…mksh ya UDAH CARE MA AKU *^_^*

Saya : Wah mas brati ora iso metu ??

: Yo..tp wes bener koh… alhamdulillah…q sbnere lg ana mslh keluarga…trtama ibuku…maka.a qjrg keluar n ngumpul karo knco2…

Saya : Masalah pie mas? Nek oleh ngerti

: ….. (maaf saya janji tidak memberi tau siapapun)

Saya : ….. (maaf saya janji tidak memberi tau siapapun)

Lha kok ora kuliah mas?

: Yo…kuliahe mulai mggu ngarep..tp rasah crta sopo2 yo? Mksh ws takon kabar ku 😀

Saya : Koe ora melu pelantikan mas? Iyoo mas aku yo sbg knco isone ngene tok mas…

: Q metu bos…mf,q rada kcwa karo bbrapa knco n kakak tgkat…n ra duwe duit jg…

Saya : Oalah yowes mas dewe podo sepemikiran.. Hehe tetep lakoni wae mas opo sing dewe anggep bener..

: ok… tp dihdpn temen2 q biasa wae… kyk tnp mslh..cm biasa kelakuan.e aku..ngilang sak karepe dewe kayak SPECTRE (hantu)

Saya : iyo aku yo ngono mas.. Wkwkwkwk penting ttp mlaku lah mas kuliah e yo

: yoi…

Saya : Sip mass broo

: haha..knca2.e dewe emg apik…tp rada individualis..mf yen pndptku slah

Saya : Raono pendpat sing bener opo salah mas.. sing penting dewe berusaha wae lah sing apik kro konco ya

: ;D

Itu percakapan saya dan salah satu temen kita di SMS, ada sedikit yang saya rubah, saya hilangkan dimana bagian itu karena dia tidak mau siapapun tau. Saya kira saya orang yang paling apatis disini, tapi entah kenapa saya penasaran karena di acara yang penting sore itu dia tidak datang.  Mohon maaf saya juga salah tidak menganjurkan dia untuk ikut berjuang bersama kalian. Maaf. Jujur saja kemarin sore saya juga emosi setelah saya sepertinya tidak diharapkan datang sepertinya. Semoga ini bisa membuka pandangan kalian lagi. Hormat saya untuk yang tetap dengan pendirian kalian masing-masing. Mari belajar tentang idealisme. Mari kita dukung perubahan dari luar.  Semangat untuk pelantikan, selamat berjuang, segeralah merdeka.

A man chooses, a slave obeys.

Salam, Geodesi 2014 !

AHOY!

dk