Saya tahu saya orang yang tidak mau diatur, diperintah atau disuruh untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi itulah yang membuat saya menjadi manusia dengan pikiran merdeka.

Ibu Susi Pudjiastuti

Iklan

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus

membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969 – Soe Hok Gie

Rela

Melepas bukan perkara yang mudah

Kenangan takkan hilang dalam sekejap

Apalagi bicara tentang perasaan

Entah mengapa hati saya seperti terpenjara dalam bayang-bayang

Fikiran terpagar dengan rangkaian memori

Memori akan setiap langkah perjuangan dahulu

Sampai-sampai sekarang pun masih begini

Begitu kuat memang

Sukar untuk tergantikan

Apalagi dihilangkan

Semoga

Ini langkah awal yang baik

Bangkit dengan pijakan yang baru

Yang lebih kuat

Yang penuh keyakinan

Yang tegak untuk mimpi tentang masa depan

Saya yakin

Kita masih bisa beriringan

Menuju tujuan masing-masing

Untukmu selalu yang terbaik

Saya rela

image

                “Bukanlah suatu kesalahan apabila seseorang itu mengatakan kepada orang lain bahwa ia berada di jalan yang salah, jika keadaan memerlukannya untuk berterus terang, meskipun hal ini perlu dielakkan jika keadaan tidak menuntutnya berbuat demikian. Malahan adalah sesuatu yang tidak jujur untuk mengatakan kepada orang lain bahwa ia berada di jalan yang benar hanya untuk mengambil hatinya, sedang ia meyakini sebaliknya. Karena dengan demikian ia telah menzalimi dirinya dan diri orang lain tersebut.” – Khalif Muammar.

Pembaharuan

Sore tadi saya jalan ke rumah. Saya putuskan jalan, karena memang tidak ada yang bisa menjemput saya. Orangtua saya sedang di luar kota, dan teman saya tidak bisa dihubungi. Kendaraan umum? Tidak ada. Untungnya di bus tadi saya bisa tidur, jalan 3 4 kilo aja kuat lah. Berjalanlah saya sendiri.

Terkadang saya senang melakukan sesuatu sendirian. Disaat seperti itulah saya merenungi memahami tentang apa yang sedang terjadi. Itulah mengapa kadang saya senang bersepeda sendirian.  Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang sebuah kegiatan di jurusan. Ya mungkin karena teman-teman saya sedang bersiap untuk pengukuhan esok hari.

“Negeri ini butuh pencari solusi, bukan pencaci maki”-Bapak Ridwan Kamil. Saya tahu dari status teman saya yang ia buat di timeline Line kemarin sore. Lalu saya jadi berpikir, saya merasa harus ikut berpikir kritis untuk terus mencari solusi tentang masalah apa yang tengah  terjadi, paling tidak masalah yang ada di depan mata saya, kalau negara saya belum pantas sepertinya. Jika tidak ada kesempatan untuk merubah langsung, paling tidak saya bisa membantu dengan pemikiran, disetujui atau tidak? Lihat saja nanti. Saya rasa ada yang harus dirubah dari kegiatan kaderisasi di jurusan saya, harus ada pembaharuan.

Seperti sebelumnya yang pernah saya katakan, saya setuju tentang kaderisasi. Saya setuju diadakan kaderisasi. Ini penting. Namun disini saya merasa, mengapa seperti tidak ada keselearasan antar jurusan dan himpunan. Padahal keduanya sama-sama saling berkaitan, sama-sama membutuhkan. Padahal ini juga sebuah kegiatan yang bukan main-main. Tentunya keduanya harus saling mendukung setiap apapun yang dilakukan. Hal ini menjadi dasar yang begitu penting, saya pikir dari awal harus sudah ada kesepakatan bersama tentang kegiatan ini, dari waktu, rencana kegiatan dari awal sampai akhir, bagaiamana teknisnya dan kesemuanya harus sudah tersepakati dari awal. Menjadi aneh ketika apa yang dikatakan di perjanjian awal bisa dirubah di tengah-tengah. Dengan alasan masalah birokrasi dengan jurusan? Aneh. Lantas siapa yang menjadi korban? Sudahkah dipikirkan dari awal?

Dilihat dari awal, kaderisasi di jurusan saya merupakan lanjutan dari ospek PMB. Tidak seperti kebanyakan di jurusan lain, atau univ lain yang juga masih melakukan pengkaderan. Di jurusan saya kaderisasi tidak wajib, kita bisa memilih, turut mengikuti atau tidak. Namun di awal juga ada pemeberitahuan, jika ikut maka kalian akan menjadi anggota keluarga besar kami, kalian akan mendapat surat rekomendasi himpunan, jika tidak ya kalian tidak diangkat menjadi anggota himpunan. Saya bingung, itu pemberitahuan atau ancaman. Tentunya semua ingin menjadi anggota dari sebuah keluarga besar, tentunya semua ingin mendapat perlakuan sama dari himpunan tempatnya belajar.  Bagi saya inilah salah satu hal yang juga harus dirubah. Ini yang dapat memecah belah sebuah keluarga. Keluarga baru yang masih belum diakui keluarga besarnya. Juga menjadi aneh nanti, keluarga se angkatan awal atau keuarga setelah pelantikan.  Sudahkah dipikirkan bagaimana  esok orang-orang yang memilih untuk tidak mengikuti? Saya rasa yang dipikirkan hanya yang mengikutinya tentunya. Saya telah berada dalam dua posisi itu, saya tau bagaiamana rasa diantara keduanya. Bisa membayangkan rasanya pergi ke tempat kita sendiri namun kita merasa asing di tempat kita sendiri itu? Lantas karena ada pilihan tadi, yang tidak mengikuti jadi bisa disalahkan? Salah sendiri tidak ikut. Begitukah? Karena mendiamkan masalah adalah kejahatan (saya yakin kalian bukan orang-orang jahat).

Konsep kakak adik atau senior junior super senior super junior disini pun begitu abu-abu. Sampai saya bingung sendiri. Saya sendiri punya kakak, dua orang bahkan. Setiap saya salah, kakak saya selalu memberitahu saya tentang bagaiamana yang benar. Begitupun sebaliknya, kami sama-sama menerima kritik ataupun saran. Disini? Semua menjadi tidak tahan kritik, bahkan suara-suara seperti dibungkam saya rasa. Peraturan pertama senior selalu benar, peraturan kedua jika senior salah maka kembali ke peraturan pertama. Seperti itu yang saya rasakan. Tradisi sepertinya menjadi hal yang baku, keras, dan akan terus diperjuangkan dengan bagaimanapun. Lupa dan tidak melihat bagaimana situasi kondisi yang dihadapi.

“Ini konsekuensi karena kesalahan kalian, ingat setiap kesalahan pasti ada konsekuensi yang harus kalian terima, rambut disamakan , bla bla blah” (saya hanya ingat tentang rambut disamakan). “Syarat untuk kegiatan besok, buat yang cowok rambut disamakan, bla bla blah” (saya hanya ingat tentang rambut disamakan). Kemudian kami memangkas rambut kami sesuai kesepakatan kami. Esoknya, “Lihat ini sama enggak sama yang ini? tolong yang merasa beda maju”. Saya maju. Saya bingung, kenapa harus selalu rambut disamakan. Apa esensinya. Apakah kompak hanya dilihat dari tampak luar?” Besok kalau ditanya kajur atau dosen, dijawab ini kesepakatan kalian ya”. Lebih bingung. Kami diajarkan menjadi pembohong? Saya rasa itulah mengapa saya katakan sepertinya tradisi mau tidak mau harus terus dilakukan. Dan disini juga menjadi terlihat seperti tidak ada keselarasan antar jurusan dan himpunan. Itu salah satunya.

Saya jadi teringat tweet-tweet teman saya tadi malam.

@papibjorn : Taukah jurusan yg paling byk mencetak tokoh di kampus kita? Bagaimana produk yang   dihasilkan & sistem pencetakannya?

@papibjorn : mereka dicetak memimpin, bukan pekerja

Baru sadar saya, ya memang beginilah saya pikir, setuju. Disini dari awal ditunjuk beberapa orang saja yang memimpin. Yang lain? Menjadi apatis atau ikut-ikut arus saja. Yang aktif akan semakin aktif, bahkan seperti ingin mencari perhatian, kadang-kadang sampai mengorbankan temannya sendiri (sedih). Yang apatis akan semakin apatis. Kita tau semakin lama belum tentu semakin baik. Dilantik ketika sudah siap? Hanya skenario dari awal saya pikir.

Saya rasa, kegaitan ini haruslah kembali menjadi wajib bagi kesemuanya. “Yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani”. Kalau memang takut lebih baik tidak usah sama sekali daripada diadakan tapi dengan setengah-setengah, ini justru menimbulkan masalah. Saya yakin kalian bukan orang-orang jahat. Tentunya jika memang berani untuk melakukan sesuatu, juga siap menghadapi resiko yang akan datang. Sama-sama akan timbul masalah, namun jika memang disusun dengan baik, telah ada persetujuan himpunan, jurusan dan calon keluarga baru  semuanya akan baik tentunya, saya yakin.

Saya paham, ini semua agar menunjukkan kalau kehidupan teknik itu keras. Apalagi anak lapangan. Saya tahu. Saya paham apa tujuan dan apa esensi yang ingin ditunjukkan. Saya pernah mengikuti sebuah tes sekolah tinggi negeri. Ketika itu, standar salah satu tes diturunkan melihat jika tetap menggunakan standar tersebut hanya 15 orang saja yang lulus. Akhirnya dari standar dimana IQ harus diatas 115 diturunkan menjadi 110 hingga akhirnya banyak yang dapat melewati tes tersebut. Setelah pengumuman ternyata saya beruntung, walaupun tidak diturunkan ternyata saya bisa lolos sebenarnya. Namun ya sudah saya tetap menerima keputusan tersebut, demi kebaikan bersama bukan. Menurut saya, ini dapat diterapkan disini jika memang dipikir terlalu keras, kenapa tidak diturunkan saja standarnya. Saya yakin yang telah melewatinya pun dapat menerima keputusan yang bertujuan baik itu. Sudah? Lantas kenapa masih tidak berani untuk mewajibkan? Takut tidak akan mencapai tujuan tersebut? Tidak akan tercapai esensi-esensinya? Sepesimiskah? Atau gengsi? Takut tidak disetujui birokrasi? Hanya hukuman saja yang berani diperjuangkan agar tetap dilakukan? Saya yakin banyak cara untuk mencapai tujuan yang baik.

Negeri ini telah beberapa kali mengalami pembaharuan, dari masa ke masa selalu ada yang diperbaiki. Tentunya semua bertujuan demi masa depan yang lebih baik. “Tomorrow is the another day, the day of struggle for better life”.  Semua harus mendukung setiap keputusan. Semua wajib turut mendukung perubahan. Saya yakin ini semua butuh pembaharuan. Tradisi harus disesuaikan perkembangan. Tidak semua bisa diterapkan di setiap keadaan. Jangan lagi menghindari masalah dengan memecah sebuah keluarga, sakit rasanya. Saya yakin kalian mampu merubahnya.

Tak terasa, 30 menitan saya berjalan, sudah sampai di depan gerbang rumah. Saya tidak membawa kunci rumah, karena biasanya Ibu meninggalkan kunci di depan. Saya cari kesana kemari. Di tempat biasa tidak ada. Saya hubungi tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ketika hampir putus asa. Tiba-tiba tetangga saya datang, dia membawa kunci pintu samping. Beliau memang kerap menjadi pengurus rumah kami ketika semua orang pergi beberapa hari. Beruntunglah, kadang solusi memang datang terlambat, tapi selalu datang pada saat waktu yang tepat, mungkin beginilah skenario-Nya.

Selamat atas pelantikannya kawan.

“Nobody knows the troubles, i see nobody knows my sorrow”.

Saya sedang belajar darimu Gie.